Jumat, 04 Mei 2018

Awas!! Janganlah Memlih-milih Makanan Sebab Bisa Mengakibatkan Gizi Buruk!

Ilustrasi Pola Makan Seimbang
   Kurang gizi bisa menyerang siapa saja. tak hanya anak-anak, namun juga orang dewasa, -tanpa peduli jenis kelamin, bahkan status sosial. Kondisi kurang gizi dapat terjadi karena kebiasaan kecil, seperti suka memilih-milih makanan (picky). Misalnya, beberapa orang mungkin kurang suka mengonsumsi sayur atau enggan mengonsumsi makanan laut. Padahal, kebiasaan memilih-milih makanan ternyata berkaitan dengan stunting alias kurang gizi. " Picky eater berhubungan erat dengan stunting. Karena macronutrient dan micronutrient harus terpenuhi agar nutrisi cukup." "Tapi picky eater kan memilih," kata Praktisi Kesehatan Masyarakat, dr. Nurlely Bethesda Sinaga, MPH di Jakarta, Kamis (3/5).

Nutrisi macronutrient adalah zat utama seperti karbohidrat, protein, lemak, dan lainnya. Sementara, micronutrient adalah zat pendukung seperti vitamin dan mineral. Dengan menjadi 'picky eater', maka seseorang akan kekurangan nutrisi dari salah satu atau lebih sumber makanan. Kondisi tersebut, pada akhirnya bisa berujung pada kondisi kurang gizi. Dampaknya memang tak akan terlihat secara cepat dan instan, namun dalam jangka panjang. "Picky eater kan dampaknya enggak kelihatan kasat mata. Enggak mau makan ikan, misalnya, enggak langsung keliatan dampaknya," kata Nurlely. Jika kasus ini terjadi pada anak, maka dapat diatasi dengan pola asuh. Menurut dia, anak cenderung mencontoh orangtua dalam bertindak dalam hal apapun termasuk makan. Sehingga, orangtua idealnya mencontohkan konsumsi pola makanan sehat dan bernutrisi lengkap agar anak-anak  mengikuti. "Misal, mengenalkan sayur paling susah. Kita harus lihat mereka makan, kita juga contohkan agar dia makan." "Pelan-pelan dicoba. Picky eater role model-nya adalah dari kita, orangtua," tuturnya.

Memilih-milih makanan juga dilakukan oleh orang dewasa. Agar seorang 'picky eater' tak lagi memilih-milih makanan, tak semudah mencontohkan pada anak-anak. Hal itu harus diawali oleh niat baik dari orang tersebut untuk mengonsumsi makanan dengan nutrisi yang lengkap. Namun, Nurlely menambahkan, orang dewasa memiliki peer group atau kelompok yang bergaul bersama. Mereka tak lagi mencontoh orangtua atau pihak lainnya agar mau makan makanan bernutrisi lengkap, namun mereka mempunyai tendensi untuk selalu sama dengan peer group. Dari situlah peer group bisa mengingatkannya untuk memperbaiki pola makan. "Itu hanya bisa dikerjakan ketika literasi soal kesehatan lebih baik." "Teman-teman di peer akan memberitahukan kalau makannya picky akan kekurangan nutrisi ini dan itu, dan akibat ke depannya akan seperti apa," ujar dia.


- Copyright © Berita Terupdate Intanqq - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -