BandarQ- Malam Penculikan G 30S PKI Terjadi, Presiden Soekarno Lakukan Hal Ini Bersama Dewi di Tempat Ini.
Minggu, 01 Oktober 2017
BANDARQ
![]() |
| Malam Penculikan G 30S PKI Terjadi, Presiden Soekarno Lakukan Hal Ini Bersama Dewi di Tempat Ini. |
Bandarq
Sampai saat ini polemik tentang Gerakan 30 September atau G 30S/ PKI tidak ada habisnya dibahas.
Bahkan, hingga lebih dari 50 tahun terjadinya peristiwa tersebut.
Berbagai pemikiran mengenai siapa yang mengarsiteki rencana tersebut, dan siapa yang menjadi korban atas peristiwa itu terus bermunculan. Namun, lagi-lagi masalah itu seolah tidak menemui kebenarannya.
Diberitakan dari Dominoqq,pada 30 September 1965 malam, ketika kelompok G30S sedang menyiapkan rencana operasi untuk menculik para jenderal TNI AD, di saat yang sama Presiden Soekarno justru sedang sibuk melakukan hal lain.
Saat itu Bung Karno bersiap menghadiri acara pembukaan Musyawarah Nasional Teknik (Munastek) ke Istora Senayan, Jakarta.
Acara Munastek diprakarsai oleh pemimpin Angkatan Darat dan Persatuan Insinyur Indonesia(PII). Sebagai seorang Presiden yang juga insinyur arsitektur, acara Munastek itu jelas adalah peristiwa penting bagi Bung Karno.
Ketua Munastek adalah Brigjen Hartono Wirjodiprodjo yang juga menjabat Direktur Pelalatan AD.
Sementara wakil ketuanya adalah Ir PC Harjo Sudirdjo, Menteri Pengairan Dasar yang sekaligus menjabat sebagai Ketua I.
Brigjen Hartono kemudian menjemput Bung Karno ke Istana Merdeka dan kemudian berangkat menuju Istora Senayan.
Hadir pula dalam acara pembukaan Munastek itu Wakil Perdana Menteri (Waperdam) II dr Johannes Leimena dan Waperdam III, Chaerul Saleh.
Saat tiba dan memasuki Istora yang sudah dipenuhi oleh lebih 10.000 hadirin yang gegap gempita meneriakkan slogan seperti “Merdeka”, “Hidup Bung Karno”, dan “Viva Pemimpin Besar Revolusi”.
Dan kemudian seperti biasanya Soekarno membalas mereka dengan tersenyum sambil melambaikan tangan dan disambut secara gemuruh oleh penonton.
Acara Munastek sukses dan selesai sekitar pukul 23.00 WIB. Bung Karno lalu kembali ke Istana Merdeka.
Pengawalan resmi dipulangkan dan setiap pasukan kembali ke kesatuannya masing-masing.
Pengawal pribadi Bung Karno yang juga Wakil Komandan Pasukan Pengawal Presiden Tjakrabirawa Kolonel Maulwi Saelan, dan ajudan Bung Karno, Kolonel Bambang Widjanarko memgantarkan Bung Karno ke Istana Merdeka.
Karena merasa tidak ada lagi sesuatu yang perlu mendapat perhatian apalagi pengawalan dan Presiden sendiri tidak memerintahkan Maulwi tetap berada di Istana, maka pada pukul 24.00 WIB setelah melapor Presiden, Maulwi pulang ke rumahnya di Jalan Birah II No.81, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Sekitar pukul 01.00 dini hari Maulwi kemudian tidur.
Tapi begitu Maulwi pulang Bung Karno langsung ganti baju dengan dikawal Kompol Mangil dan timnya yang berpakaian preman, ternyata mereka keluar dari Istana Merdeka dan mengemudi menuju rumah Ratna Sari Dewi Sukarno yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto (sekarang museum Satria Mandala).
Dewi ternyata sedang menghadiri malam resepsi di Hotel Indonesia yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Irak di Jakarta.
Bung Karno dan rombongannya kemudian menyusul ke Hotel Indonesia dan menunggu di tempat parkir halaman hotel.
Sedangkan Soeparto, sopir pribadi Presiden menjemput Dewi yang dikawal anak buah Mangil, Ajun Inspektur II Sudiyo.
Setelah Dewi masuk ke mobil Bung Karno rombongan yang baru saja “bergadang” itu meneruskan perjalanan menuju rumah Dewi di jalan Gatot Subroto.
Pada tengah malam itu pula di kawasan sisi timur Jakarta yang hanya berjarak kurang dari 10 km dari kawasan jalan Gatot Subroto telah terjadi aksi penculikan dan pembunuhan para jenderal yang kemudian menjadi Pahlawan Revolusi.
Presiden Soekarno sendiri baru tahu tentang penculikan para jenderal itu saat mengamankan diri di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma pada 1 Oktober 1965 menjelang sore hari






Posting Komentar